peliharaan

Jumat, 30 Mei 2014

Kekurangan Energi Protein



KONSEP EPIDEMIOLOGI
KEKURANGAN ENERGI PROTEIN


EPIDEMIOLOGI DAN SURVEILANCE GIZI



Kelas B
Kelompok 2:

Ima Rotus Sholeha                                          (112110101001)
Ikrimah Nur Hanifa                                        (112110101032)
Mentari Sekar Arum                                       (112110101063)
Putri Wulandari                                               (112110101065)
Faidatun Nisak Aprilianti                               (112110101166)




FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JEMBER
2014

Konsep Kekurangan Energi Protein (KEP)
Pengertian penyebab penyakit dalam epidemiologi berkembang dari rantai sebab akibat ke suatu proses kejadian penyakit, yakni proses interaksi antara manusia (pejamu) dengan berbagai sifatnya (biologis, fisiologis, psikologis, sosiologis, dan antropologis) dengan penyebabnya (agent) serta dengan lingkungan (environment). (Nasry Noor, 2008).
          KEP merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. KEP disebabkan karena defisiensi macro nutrient (zat gizi makro). Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah gizi dari defisiensi macro nutrient kepada defisiensi micro nutrient, namun beberapa daerah di Indonesia prevalensi KEP masih tinggi (> 30%) sehingga memerlukan penanganan intensif dalam upaya penurunan prevalensi KEP. Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari, sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi.
        Penyakit Kurang Energi Protein (KEP) merupakan bentuk malnutrisi yang terdapat terutama pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dan kebanyakan di negara-negara sedang berkembang. Penyakit akibat KEP ini dikenal dengan Kwashiorkor, Marasmus, dan Marasmic Kwashiorkor. Kwashiorkor disebabkan karena kurang protein. Marasmus disebabkan karena kurang energi dan Manismic Kwashiorkor disebabkan karena kurang energi dan protein. KEP umumnya diderita oleh balita dengan gejala hepatomegali (hati membesar). Tanda-tanda anak yang mengalami Kwashiorkor adalah badan gemuk berisi cairan, depigmentasi kulit, rambut jagung dan muka bulan (moon face). Tanda-tanda anak yang mengalami Marasmus adalah badan kurus kering, rambut rontok dan flek hitam pada kulit.
          Adapun yang menjadi penyebab langsung terjadinya KEP adalah konsumsi yang kurang dalam jangka waktu yang lama. Pada orang dewasa, KEP timbul pada anggota keluarga rumahtangga miskin olek karena kelaparan akibat gagal panen atau hilangnya mata pencaharian. Bentuk berat dari KEP di beberapa daerah di Jawa pernah dikenal sebagai penyakit busung lapar atau HO (Honger Oedeem).
Segitiga epidemiologi digunakan dengan mengidentifikasi interaksi antara agent, host, dan environment yang berkaitan dengan penyebab Kekurangan Energi Protein.
a)        Agent
a)      Asupan
                                      i.      Pemberian ASI
Makanan utama balita umur 0 – 6 bulan hanyalah ASI karena dari segi fungsi organ pencernaan balita belum bisa menerima secara sempurna makanan yang lain selain ASI. Disamping itu ASI juga mengandung imunoglobulin alami dari ibu yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh balita. Apabila balita sudah mendapatkan makanan selain ASI misalnya pisang, nasi tim, dapat menyebabkan kebosanan pada balita tersebut sehingga pada umur-umur selanjutnya balita akan cenderung malas makan, hal tersebut yang dapat menyebabkan KEP pada balita.
                                    ii.      Kualitas dan kuantitas asupan nutrisi
Pada umumnya malnutrisi yang terjadi pada anak-anak dapat merupakan suatu kelanjutan dari suatu keadaan kurang gizi yang telah dimulai semenjak bayi. Meskipun kebutuhan kalori telah dipenuhi akan tetapi makanan yang diberikan tidak mengandung nutrien yang esensial bagi manusia dapat menyebabkan gangguan gizi. Frekuensi pemberian dan banyaknya jumlah asupan nutrisi yang diberikan sangat menentukan keadaan gizi balita.
                                  iii.      Kurangnya intake energi dan protein.
Terjadinya KEP dapat diawali oleh faktor makanan yang kadar proteinnya kurang dari kebutuhan tubuh, sehingga menyebabkan kekurangan asam amino esensial dalam serum yang diperlukan dalam pertumbuhan dan perbaikan sel. Kekuranga asam amino esensial meyebabkan produksi albumin dalam hati juga berkurang sehingga berbagai kemungkinan akan dialami pasien seperti hipoproteinemia, menyebabkan edema dan akhirnya menyebakan asites, gangguan mata, kulit, dan laim-lain. Selain itu, KEP juga disebabkan oleh faktor makanan yang kadar kalori dan proteinnya kurang dari kebutuhan tubuh, sehingga dapat menjadi atrofi jaringan, khususnya pada lapisan subkutan dan akhirnya anak kelihatan kurus, anak kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya.
b)      Penyakit infeksi.
KEP dapat diperberat dengan adanya penyakit infeksi yang menyertainya. Penyakit infeksi berpotensi sebagai penyokong atau pembangkit KEP. Penyakit diare, campak, dan infeksi saluran napas kerap menghilangkan nafsu makan. Penyakit saluran pencernaan yang sebagian muncul dalam bentuk muntah dan gangguan penyerapan, menyebabkan kehilangan zat-zat gizi dalam jumlah besar. Percepatan proses katabolisme meningkatkan kebutuhan sekaligus menambah kehilangan zat-zat gizi.





b)       Pejamu (host)
a)      Manusia sebagai makhluk biologis
                                                              i.      Umur
             Tidak ada batasan umur, orang dewasa juga bisa menderita KEP tetapi jarang terjadi dan manifestasi klinisnya tidak separah pada anak balita.
                                                            ii.      Jenis kelamin
            Tidak ada kecenderungan penderita KEP terhadap jenis kelamin tertentu. Baik laki-laki atau perempuan memiliki peluang yang sama untuk menderita KEP.

                                                          iii.      Status gizi dan kesehatan individu.
            Balita atau orang dewasa yang memiliki status gizi dan kesehatan individu yang rendah rentan dan berpeluang besar menderita KEP.

b)      Manusia sebagai makhluk sosial
                                                              i.      Kelompok etnik
·      Adat dan Tabu Makanan (Food Taboo)
        Adat atau kepercayaan tentang makanan yang terkait tabu ada di seluruh negara dan kalangan masyarakat. Dalam masyarakat Hindu, terdapat larangan makan makanan yang mengandung daging sapi, karena dalam masyarakat Hindu, sapi adalah binatang yang disakralkan, dianggap suci dan merupakan dewa dari masyarakat Hindu. Padahal kandungan protein daging sapi itu tinggi dan sangat dianjurkan untuk dikonsumsi guna mencukupi kebutuhan protein dalam tubuh.


                                                            ii.      Perilaku 
            Perilaku yang rawan terserang kekurangan energy protein adalah anak tidak mau makan. Anak tidak mau makan banyak, penyebabnya antara lain: adanya penyakit infeksi seperti tuberculosis paru, glomerulo nephritis kronik yang menurunkan nafsu makan. Penyakit infeksi akut seperti influenza, bronchitis, bronchiolitis, broncho pneumonia, campak, virus, dan penyakit neoplasma (kanker, leukemia). Anak yang terlalu aktif juga capek untuk makan. Ibu yang memberi terlalu banyak perhatian dan anak yang tidak mendapat perhatian juga dapat menyebabkan anak tidak atau sukar untuk makanan.

c)        Lingkungan
Lingkngan adalah agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme. Macam-macam lingkungan yaitu fisik, biologik, Sosial ekonomi dan budaya.
a)      Fisik
Aspek lingkungan fisik yang mempengaruhi terjadinya penyakit KEP adalah air. Air yang telah terkontaminasi oleh limbah dapat mengganggu kesehatan yang memperburuk atau menyebabkan penyakit infeksi sehingga menyebabkan KEP.

b)      Biologi
Dalam hubungannya dengan penyakit/kesehatan dari sektor lingkungan biologi vektor pembawa penyakit yaitu lalat. Lalat yang membawa bakteri e coli pada kakinya kemudian menyebarkannya pada makanan dan minuman yang menimbulkan penyakit diare dan dapat menyebabkan atau memperburuk penyakit infeksi sehingga menyebabkan KEP.

c)      Sosial, ekonomi, budaya
                                 i.      Tingkat pendidikan
Hasil analisa data Susenas 1986 menunjukkan bahwa pendidikan orang tua ternyata berhubungan negatif dengan prevalensi kurang gizi. Jadi mungkin ada faktor lain yang menyebabkan anak dari orang tua dengan tingkat pendidikan tamat SLTA menderita KEP bahkan sampai tingkat berat. Beberapa pakar pendidikan gizi seperti Green, Mantra dan Rogers berpendapat bahwa disamping pendidikan, tingkat pengetahuan ibu tentang gizi sangat berpengaruh terhadap praktek gizi ibu dalam rumah tangga.
                               ii.      Tingkat pengetahuan
Timbulnya malnutrisi pada balita tidak lepas dari pengetahuan ibu tentang gizi baik dari segi kebiasaan pola makan, kebersihan, kualitas dan kuantitas yang akan mempengaruhi gizi balitanya, bila ibu memiliki pengetahuan yang kurang tentang gizi bagi balita tentunya akan berdampak langsung bagi asupan nutrisi balitanya. Pengetahuan tentang gizi tidak harus didapat dari kegiatan-kegiatan formal atau pendidikan khusus, hanya dengan kreatifitas dan inisiatif dari ibu informasi mengenai pengetahuan tentang gizi dengan mudah dapat diperoleh.
Pengetahuan ibu tentang cara memperlakukan bahan pangan dalam pengolahan dengan tujuan membersihkan kotoran, tetapi sering kali dilakukan berlebihan sehingga merusak dan mengurangi zat gizi yang dikandungnya. Pengetahuan masyarakat tentang memanfaatkan potensi alam dan biologis (misalnya jenis rumput-rumputan yang dapat dimakan) untuk meningkatkan mutu gizi menu makanan keluarga.
                             iii.      Jumlah anggota keluarga
Jumlah anak yang banyak pada keluarga yang keadaan social ekonominya cukup, akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak, lebih-lebih kalau jarak anak yang terlalu dekat. Adapun pada keluarga dengan keadaan social ekonomi yang kurang, jumlah anak yang banyak akan mengakibatkan kurangnya kasih saying dan perhatian pada anak, juga kebutuhan primer seperti makanan, sandang, dan perumahan pun tidak terpenuhi.
                             iv.      Jenis pekerjaan ibu
Pada usia ini balita juga mulai lebih banyak bersosialisasi dengan lingkungan. Pekerjaan ibu yang banyak memakan waktu sedikit banyak berpengaruh pada komunikasi diantara keduanya. Ibu dengan tingkat kesibukan diluar rumah yang tinggi dapat mengurangi pengawasan terhadap balitanya karena seringkali dititipkan kepada sanak saudara yang lain atau tetangga yang tidak menjamin apakah balitanya tersebut diasuh dengan baik. Hal itu dapat menyebabkan asupan nutrisi yang diterima oleh balita kurang sehingga balita jatuh dalam keadaan gizi kurang atau gizi buruk.
                               v.      Jarak Kelahiran
Jarak kelahiran antara dua bayi yang terlalu dekat menyebabkan ketidakmampuan keluarga untuk merawat anak-anak dengan baik. Keluarga yang tidak melaksanakan pengaturan kelahiran dapat mempunyai anak banyak sekali, akibatnya kurang cukup makanan yang dibagikan. Sebaliknya, apabila keluarga melaksanakan pengaturan kelahiran dan disertai gizi yang cukup maka akan menghasilkan anak-anak yang baik.
                             vi.      Pendapatan atau ekonomi
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer seperti makanan maupun yang sekunder. Tingkat penghasilan juga ikut menentukan jenis pangan yang akan dibeli dengan adanya tambahan penghasilan. Orang miskin membelanjakan sebagian besar untuk serealia, sedangkan orang kaya membelanjakan sebagian besar untuk hasil olahan susu. Jadi, penghasilan merupakan faktor penting bagi kualitas dan kuantitas makanan. Antara penghasilan dan gizi jelas ada hubungan yang menguntungkan. Pengaruh peningkatan penghasilan terhadap perbaikan kesehatan dan kondisi keluarga lain yang mengadakan interaksi dengan status gizi yang berlaku hampir universal.
Rendahnya daya beli masyarakat merupakan halangan utama yang akan berpengaruh terhadap asupan nutrisi keluarga dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Sehingga kandungan gizi lengkap sperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral jarang terpenuhi. Sebenarnya, sekalipun daya beli masyarakat rendah kekurangan gizi akan bisa diatasi jika ibu tahu bagaimana seharusnya memanfaatkan segala sumber yang dimiliki.
                           vii.      Pola Asuh
Asuhan anak atau interaksi ibu dan anak terlihat erat sebagai indikator kualitas dan kuantitas peranan ibu dalam mengasuh anak. Untuk itu, pola asuh dapat dipakai sebagai peramal atau factor resiko terjadinya kurang gizi atau gangguan perkembangan pada anak. Peran ibu dalam keluarga mempunyai peranan yang besar dalam menanamkan kebiasaan makan pada anak. Pola asuh pada anak merupakan salah satu kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, yaitu kebutuhan emosi atau kasih sayang di mana kehadiran ibu diwujudkan dengan kontak fisik dan psikis, misalnya dengan menyusui segera setelah lahir akan menjalin rasa aman bagi bayi dan akan menciptakan ikatan yang erat.

DAFTAR PUSTAKA


Almatsier, Sunita.2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : EGC

Nasry Noor, Nur. 2008. Epidemiologi. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Gibney,dkk.2005. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC

Catur Prangga Wadana, dkk. 2008. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Balita Kekurangan Energi Protein (Kep) Di Desa Jumputrejo Kecamatan Sukodono Kabupaten Sidoarjo. http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/penelitian/BALITA%20KEKURANGAN%20ENERGI%20PROTEIN%20(KEP).pdf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar